Friday, August 29, 2014
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Evaluasi Program BK

BAB I

PENDAHULUAN

 

   Pendidikan di Indonesia dewasa ini mengemban tugas menghasilkan sumber daya insani bermutu, yakni: “Manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” (UU RI, No. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS, 2003). Definisi tersebut menggambarkan sosok individu yang berkembang dalam segenap aspek; bukan saja aspek akademis-intelektual, tetapi juga aspek pribadi, sosial, dan sistem nilai. Oleh karenanya, pendidikan  sebagai  pendukung  utama bagi terwujudnya insan bermutu semacam ini adalah pendidikan yang mengantarkan peserta didik pada pencapaian standar akademis yang diharapkan, dan kondisi perkembangan diri yang sehat, berjalan secara utuh  dan optimal.

Bimbingan dan Konseling dalam konteks sistem pendidikan nasional Indonesia ditempatkan sebagai bantuan kepada peserta didik untuk dapat menemukan pribadi, memahami lingkungan, dan merencanakan masa depan. Subjek yang ditangani konselor adalah subjek didik yang berada dalam perkembangan normal. Kehadiran bimbingan dan konseling turut memberikan berbagai kontribusi positif dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Namun demikian, berbagai masalah masih dirasakan bimbingan dan konseling terutama didalam penyelenggaraannya.

masih belum memiliki kemampuan seperti yang diharapkan dalam aspek keterampilan konseling individual. Nurhisan, A.J. (1993) dalam penelitiannya menemukan pelaksanaan konseling oleh guru bimbingan dan konseling belum sesuai dengan yang diharapkan, yakni masih kurangnya kemampuan dalam menangani dan menggali masalah yang dihadapi siswa. Penelitian Marjohan (1993), menunjukkan: baru 39,47% guru bimbingan dan konseling yang dapat menerapkan kemampuan profesional konseling dalam kategori ’tinggi’, adapun 60,53% baru mampu menerapkan kemampuan tersebut pada kategori ’sedang’.

Indikasi rendahnya kompetensi konselor di DKI Jakarta, terungkap dari laporan ”Uji Kompetensi Guru SMA dan SMK DKI Jakarta tahun 2005” (Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi DKI Jakarta; & Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta). Uji kompetensi untuk guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam penelitian itu, mencakup empat rumpun kompetensi: (1) penguasaan konselor terhadap konsep/materi, kurikulum, metode dan evaluasi bimbingan; (2) kemampuan dalam menyelenggarakan dan mengelola pelaksanaan bantuan atau bimbingan kepada peserta didik, (3) pengembangan potensi diri; (4) sikap dan kepribadian. Hasil uji kompetensi konselor di wilayah DKI Jakarta, dari 385 responden, kepemilikan keseluruhan rumpun kompetensinya: 2% sangat baik (A), 9% baik (B), 47% sedang (C), 38% kurang (D), dan 4% sangat kurang (E). Lebih lanjut diinformasikan, bahwa kompetensi yang ditunjukkan oleh guru BK tersebut paling rendah di antara guru-guru lain (guru mata pelajaran). Penelitian itu merekomendasikan pentingnya program pemberdayaan, yakni upaya pembinaan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan konselor dan dirancang secara sistematik. Maka, perlu studi khusus guna mengembangkan perangkat instrumen penyelenggaraan pembinaan kompetensi konselor, sebagai tindak lanjut pasca uji kompetensi yang telah dilakukan untuk diterapkan dalam upaya pengembangan kompetensi konselor lebih lanjut.



BAB II

PEMBAHASAN



Evaluasi terhadap Konselor di Sekolah

Sebagaimana pada waktu tertentu diadakan evaluasi terhadap tenaga pengajar, misalnya berkaitan dengan kenaikan pangkat atau akademik, demikian pula wajarlah jika tenaga pendidik non-guru juga dievaluasi seperti pejabat struktural dan konselor sekolah. Mengangkat, mmepertahankan, memberikan kenaikan pangkat atau golongan ataupun melepaskan seorang konselor sekolah harus dapat dipertanggungjawabkan dan untuk itu tenaga bimbingna harus membuktikan keberhasilannya dalam berkarya (accountability).

Tiga unsur pokok dalam evaluasi terhadap tenaga bimbingan professional, yaitu kriteria yang harus diterapkan, metode serta alat yang dapat digunakan, dan siapa yang berwenang mengadakan penilaian ini.

1.Kriteria yang diterapkan harus dijabarkan dari fungsi, tugas dan wewenang seorang konselor dalam suatu institusi pendidikan formal. Pengumpulan data, pemberian informasi, penempatan, konseling, konsultasi dan evaluasi program. Berdasarkan keenam komponen ini dan dengna mengindahkan apakah konselor sekaligus menjabat sebagai koordinator bimbingan, dapat dikembangkan sejumlah cirri eksternal dan internal yang khas pada jabatannya dan dapat dijadikan materi untuk mengumpulkan data sebagai dasar bagi evaluasi, misalnya:
a)Pengumpulan/Penghimpunan Data: ciri eksternal seperti mneggunakan alat penghimpun data yang relevan, berpegang pada rencana kerja dalam mengumpulkan data, merevisi alat atau instrument yang digunakan secara berkala; ciri internal seperti kemampuan untuk membuat analisis dari sintesis terhadap data yang terhimpun sehingga mulai bermakna, kemempuan untuk mengidentifikasikan kasus yang membutuhkan perhatian khusus berdasarkana data yang dipelajari.
b)Pemberian informasi: ciri eksternal seperti membuat satuan pelayanan bimbingan kelompok di kelas, menyusun rencana tahunan tentang tema atau topik yang akan diketerngahkan di berbagai tingkatan kelas, menyediakan berbagai sumber informasi cetak tentang variasi program studi lanjutan dan bidang pekerjaan; ciri internal seperti keselarasan antara kebutuhan siswa dan informasi yang disampiakan, kegiatan bimbingan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan secara jelas, usaha mnengadakan evaluasi apakah sasaran memang tercapai.
c)Penempatan: ciri eksternal seperti cara kerja sistematis membantu siswa mengenal diri sendiri dengan lebih baik, mencari sumber data yang relevan serta membuat rencana bagi studi masa depan atau memasuki pasar kerja, cara kerja bila membantu siswa secara individual dan secara kelompok; ciri internal seperti stabilitas dalam pemberian bantuan ini, menjalankan tugas ini dengan semangat kerja yang tinggi.
d)Konseling: ciri eksternal seperti memberikan kesempatan luas untuk berwawancara konseling, mencapai persetujuan dengan staf guru tentang kemungkinan siswa meninggalkan pelajaran untuk wawancara konseling, mempunyai arsip pribadi tentang wawancara yang telah diselenggarakan. Ciri internal seperti fleksibilitas dalam penggunaan pendekatan konseling sesuai dengan kebutuhan konseli, keluwesan dalam penggunaan teknik verbal nonverbal.
e)Konsultasi: ciri eksternal seperti dikenal dalam kalangan staf pendidik yang lain sebagai orang yang dapat diandalkan dalam memberikan pandangan, frekuensi dihubungi oleh orangtua siswa untuk mebicarakan masalah anak. Ciri internal seperti mengambil sikap koperatif dalam berurusan dengan staf guru dan orangtua siswa, berwawasan luas dalam menganalisis kasus siswa yang disampaikan kepadanya.
f)Evaluasi: ciri eksternal seperti memikirkan cara konkret untuk mengadakan evaluasi program yang dibuktikan dengan sumber tertulis, menunjukkan hasil pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif. Ciri internal seperti kemampuan menarik kesimpulan yang masuk akal berdasarkan data yang terhimpun, kemampuan untuk merencanakan tindakan perbaikan dan peningkatan yang realistis serta mungkin untuk dilaksanakan.


2.Dalam hal metode serta alat yang dapat digunakan muncul suatu kesukaran karena jumlah kegiatan yang dilakukan oleh konselor sekolah cenderung banyak, apalagi bervariasi sekali. Metode serta alat yang tersedia untuk mengadakan evaluasi terhadap tenaga pengajar tidak sesuai dan/atau belum lengkap untuk menilai prestasi kerja konselor sekolah. Oleh karena itu jumlah metode atau alat evaluasi yang dibutuhkan dalam proses mengevaluasi prestasi kerja tenaga bimbingan professional cenderung lebih banyak, mulai dari dibutuhkan metode dan alat yang mana untuk menghimpun data tentang apa. Dibawah ini disebutkan sejumlah metode yang relevan untuk mengumpulkan data tertentu, sebagai berikut:
1.Metode Survai

Alat yang digunakan ialah suatu daftar sejumlah item yang oleh pihak penilai dijawab dengan Ya – Tidak; bila dijawab Ya, masih dapat diberi gradasi Kurang – Cukup – Baik.
2.Metode Observasi

Alat bantu yang digunakan ialah daftar perilaku yang akan diamati. Terdapat juga ruang untuk mencatat jawaban pihak penilai berupa pencatatan frekuensi dan pendapat evaluative (Baik, Cukup, Kurang)
3.Wawancara

Alat bantu yang digunakan ialah daftar pertanyaan untuk dijawab secara lisan, justru mengenai hal-hal yang tidak langsung dapat diobservasi.
4.Pemeriksaan Produk

Produk yang dimaksudkan ialah rencana kerja tahunan; persiapan satuan layanan; arsip surat masuk dan keluar, misalnya tentang pengalihan kasus kepada ahli lain (referral); format kartu pribadi dan arsip kartu pribadi; format administrasi bimbingan yang lain. Mengenai semua produk ini dapat dibentuk pendapat mengenai relevansinya, kelengkapannya dan cara menggunakannya. Alat bantu yang digunakan adalah daftar item yang dijawab dengan Ya – Tidak: kalau dijawab Ya, masih dapat dirinci Baik – Cukup – Kurang. Kebanyakan item akan menyangkut ciri eksternal.
5.Format Evaluasi-diri

Tenaga bimbingan diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan terbuka yang harus dijawab secara tertulis. Jumlah pertanyaan yang disajikan secara tertulis pula memang terbatas dan diarahkan ke pengungkapan pendapat pribadi tentang beberapa hal yang relevan, seperti posisi di sekolah, mutu program bimbingan, gambaran mengenai pengembangan diri dan program bimbingan. Yang disimak ialah terutama ciri-ciri internal, sehingga pihak penilai dapat membentuk pendapat evaluative tentang wawasan intelektual dan sikap konselor sekolah yang bersangkutan.


3.Dari uraian 1 dan 2 sudah jelas bahwa bukan sembarang pejabat struktural berkemampuan dan berwewenang sepenuhnya untuk mengadakan evaluasi terhadap konselor sekolah serta prestasi kerjanya. Sebagaimana telah dikatakan di atas, kepala sekolah serta pejabat struktural lainnya yang berada di atasnya dapat saja membentuk pandangan evaluatif tentang prestasi kerja konselor sekolah sebagai tenaga pendidik pada umumnya, tetapi jarang sebagai tenaga ahli bimbingan secara lebih rinci dan spesifik. Tidak adillah seandainya evaluasi terhadap konselor sekolah seluruhnya dilaksanakan oleh kepala sekolah tanpa melibatkan nara sumber yang ahli dalam bimbingan di institusi pendidikan. Namun, mengingat kendala financial yang biasanya timbul bila dilibatkan nara sumber dari luar kalangan staf pendidik sekolah, evaluasi lengkap dan mendalam hanya dapat diadakan pada waktu-waktu tertentu, misalnya sekali dalam waktu lima tahun. Pada waktu lain bila perlu diadakan evaluasi, evaluasi itu terbatas pada aspek-aspek kinerja konselor sebagai tenaga pendidik seperti staf edukatif yang lain.

Kriteria Yang Diterapkan Sebagai Tenaga Ahli

Ekspektasi kinerja konselor dalam menyelenggarakan layanan ahli bimbingan dan konseling senantiasa digerakkan oleh motif altruistic, sikap empatik, menghormati keragaman, serta mengutamakan kepentingan konseli dengan selalu mencermati dampak jangka panjang dari pelayanan yang diberikan.

Kriteria Yang Diterapkan Sebagai Tenaga Ahli Kompetensi akademik merupakan landasan bagi pengembangan kompetensi professional yang meliputi:
1.Memahami secara mendalam konseli yang dilayani
2.Menguasai landasan dan kerangka teoritis bimbingan dan konseling
3.Menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling yang memandirikan
4.Mengembangkan pribadi dan profesionalitas konselor secara berkelanjutan

Unjuk kerja konselor sangat dipengaruhi oleh kualitas penguasaan ke empat kompetensi tersebut yang dilandasi oleh sikap, nilai, dan kecenderungan pribadi yang mendukung.

Kompetensi akademik dan professional konselor secara terintegrasi membangun keutuhan kompetensi paedagogis, kepribadian, sosial, dan professional.

Pembentukan kompetensi akademik konselor ini merupakan proses pendidikan formal jenjang strata satu (S-1) bidang bimbingan dan konseling yang bermuara pada penganugerahan ijazah akademik sarjana pendidikan (S.Pd) bidang bimbingan dan konseling. Sedangkan, kompetensi professional merupakan penguasaan kiat penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang memandirikan, yang ditumbuhkan serta diasah melalui latihan menerapkan kompetensi akademik, yang telah diperoleh dalam konteks autentik pendidikan profesi konselor yang berorientasi pada pengalaman dan kemampuan praktik lapangan. Dan, tamatannya memperoleh sertifikat profesi bimbingan dan konseling dengan gelar profesi konselor, disingkat Kons.



Rumusan standar kompetensi konselor telah dikembangkan dan dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang menegaskan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor. Namun, bila ditata ke dalam empat kompetensi pendidik sebagaimana tertuang dalam PP 19/2005, maka rumusan kompetensi akademik dan professional konselor dapat dipetakan dan dirumuskan ke dalam kompetensi pedagogis, kepribadian, sosial, dan professional sebagai berikut.
Kompetensi Inti
Kompetensi

A. Kompetensi Pedagogis
1.Menguasai teori dan praksis pendidikan
1.1. Menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya

1.2. Mengimplementasikan prinsip-prinsip pendidikan dan proses pembelajaran

1.3. Menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan
2.Mengaplikasikan perkembangan fisiologis dan psikologis serta perilaku konseli
2.1. Mengaplikasikan kaidah-kaidah perilaku manusia, perkembangan fisik dan psikologis individu terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan

2.2. Mengaplikasikan kaidah-kaidah kepribadian, individualitas dan perbedaan konseli terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan

2.3. Mengaplikasikan kaidah-kaidah belajar terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan

2.4. Mengaplikasikan kaidah-kaidah keberbakatan terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan

2.5. Mengaplikasikan kaidah-kaidah kesehatan mental terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling dalam upaya pendidikan.
3.Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur, jenis, dan jenjang satuan pendidikan
3.1. Menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jalur pendidikan formal, nonformal dan informal

3.2. Menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum, kejuruan, keagamaan, dan khusus

3.3. Menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan usia dini, dasar dan menengah, serta tinggi.

B. Kompetensi Kepribadian
4.Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
4.1. Menampilkan kepribadian yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

4.2. Konsisten dalam menjalankan kehidupan beragama dan toleran terhadap pemeluk agama lain

4.3. Berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur
5.Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, individualitas dan kebebasan memilih
7.1. Mengaplikasikan pandangan positif dan dinamis tentang manusia sebagai makhluk spiritual, bermoral, sosial, individual dan berpotensi

7.1. Menghargai dan mengembangkan potensi positif individu pada umumnya dan konseli pada khususnya

7.1. Peduli terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya

7.1. Menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan hak dan asasinya

7.1. Toleran terhadap permasalahan konseli

7.1. Bersikap demokratis
6.Menunjukkan integritas dan stabilitas kepribadian yang kuat
6.1. Menampilkan kepribadian dan perilaku yang terpuji

6.2. Menampilkan emosi yang stabil

6.3. Peka, bersikap empati, serta menghormati keragaman, dan perubahan

6.4. Menampilkan toleransi tinggi terhadap konseli yang menghadapi stress dan frustasi
7.Menampilkan kinerja kualitas tinggi
7.1. Menampilkan tindakan yang cerdas, kreatif, inovatif, dan produktif

7.2. Bersemangat, berdisiplin, dan mandiri

7.3. Berpenampilan menarik dan menyenangkan

7.4. Berkomunikasi secara efektif
8.Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja
8.1. Memahami dasar, tujuan, organisasi, dan peran pihak-pihak lain di tempat bekerja

8.2. Mengomunikasikan dasar, tujuan, dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja

8.3. Bekerjasama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja
9.Berperan dalam kegiatan organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konnseling
9.1. Memahami dasar, tujuan, dan AD/ART organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri dan profesi

9.2. Menaati kode etik profesi bimbingan dan konseling

9.3. Aktif dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri dan profesi
10.Mengimplementasikan kolaborasi antar profesi
10.1. Mengomunikasikan aspek-aspek professional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain

10.2. Memahami peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dann konseling

10.3. Bekerja dalam tim bersama tenaga professional dan professional profesi lain

10.4. Melaksanakan referral kepada ahli profesi lain sesuai dengan keperluan
D.Kompetensi Profesional
11.Menguasai konsep dan praxis assessment untuk memahami kondisi, kebutuhan, dan masalah konseli

11.1. Menguasai hakikat assessment

11.2. Memilih teknik assessment sesuai dengan kebutuhan pelayanan bimbingan dan konseling

11.3. Menyusun dan mengembangkan instrument assessment untuk keperluan bimbingan dan konseling

11.4. Mengadministrasikan assessment untuk mengungkap masalah-masalah konseli

11.5. Memilih dan mengadministrasikan teknik assessment pengungkapan kemampuan dasar dan kecenderungan pribadi konseli

11.6. Memilih dan mengadministrasikan instrument untuk mengungkapkan kondisi actual konseli berkaitan dengan lingkungan

11.7. Mengakses data dokumentasi tentang konseli dalam pelayanan bimbingan dan konseling

11.8. Menggunakan hasil assessment dalam pelayanan bimbingan dan konseling dengan tepat

11.9. Menampilkan tanggung jawab professional dalam praktik assessment
12.Menguasai kerangka teoritis dan praktis bimbingan dan konseling
12.1. Mengaplikasikan hakikat pelayanan bimbingan dan konseling

12.2. Mengaplikasikan arah profesi bimbingan dan konseling

12.3. Mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling

12.4. Mengaplikasikan pelayanan bimbingn dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja

12.5. Mengaplikasikan pendekatan/model/jenis pelayanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling

12.6. Mengaplikasikan dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling
13.Merancang program Bimbingan dan Konseling
13.1. Menganalisis kebutuhan konseling

13.2. Menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan

13.3. Menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan konseling

13.4. Merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling
14.Mengimplementasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif
14.1. Melaksanakan program bimbingan dan konseling

14.2. Melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam pelayanan bimbingan dan konseling

14.3. Memfasilitasi perkembangan akademik, karier, personal, dan sosial konseli

14.4. Mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling
15.Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling
15.1. Melakukan evaluasi hasil, proses, dan program bimbingan dan konseling

15.2. Melakukan penyesuaian proses pelayanan bimbingan dan konseling

15.3. Menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait

15.4. Menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program bimbingan dan konseling
16.Memiliki kesadaran dan komitmen terhadap etika professional
16.1. Memahami dan mengelola kekuatan dan keterbatasan pribadi dan professional

16.2. Menyelenggarakan pelayanan sesuai dengan kewenangan dan kode etik professional konselor

16.3. Mempertahankan objektifitas dan menjaga agar tidak larut dengan masalah konseling

16.4. Melaksanakan referral sesuai dengan keperluan

16.5. Peduli terhadap identitas professional dan pengembangan profesi

16.6. Mendahulukan kepentingan konseli daripada kepentingan pribadi konselor

16.7. Menjaga kerahasiaan konseli
17.Meguasai konsep dan praksis penelitian dalam bimbingan dan konseling
17.1. Memahami berbagai jenis dan metode penelitian

17.2. Mempu merancang penelitian bimbingan dan konseling

17.3. Melaksanakan penelitian bimbingan dan konseling

17.4. Memanfaatkan hasil penelitian dalam bimbingan dan konseling dengan mengakses jurnal pendidikan dan bimbingan dan konseling




Sifat Konselor

Menurut Jones, ada tujuh sikap yang harus dimiliki seorang konselor. Yaitu:
1.Tingkah laku yang etis
2.Kemampuan intelektual
3.Keluwesan (flexibility)
4.Sikap penerimaan (acceptance)
5.Pemahaman (understanding)
6.Peka terhadap rahasia pribadi
7.Komunikasi

     

      

     

    BAB III

    KESIMPULAN

     

    Ketelitian, kejelian, kemampuan menganalisis, dan memperbaharui metode sangat mendukung kesuksesan seorang konselor dan pola 17 BK dapat mendorong konselor untuk memberikan pelayanan prima pada konseli. Hal ini ibarat dokter kepada pasien,ada kecocokan,pengaruh,dan efek positif yang membuat orang percaya pada BK.

    Banner
    Brown Blue Orange